Tidak ada yang benar-benar siap untuk perpisahan. Bahkan ketika kita sudah tahu tanggalnya, jamnya, bahkan detiknya, tetap saja dada terasa sempit seperti sedang dipaksa mengingat sesuatu yang ingin dilupakan. Hari itu Jakarta berawan, kereta jarak jauh akan berangkat pukul 17.10 WIB, dan aku berdiri di peron dengan tangan yang tak tahu harus memegang apa: koper, tiket, atau kamu.
“Kau yakin nggak mau aku tahan?” tanyaku pelan.
Kau tersenyum. Senyum yang sama yang dulu membuatku berpikir hidup selalu punya cara untuk menjadi lembut. “Aku nggak pergi karena marah,” katamu. “Aku pergi karena ini yang paling baik.”
Paling baik untuk siapa? Untuk kota baru? Untuk masa depanmu? Atau untuk hatiku yang akan dibiarkan tinggal di stasiun ini, menempel di tiang nomor 3, menunggu kereta yang tak akan lagi menurunkanmu?
Suara pengumuman melayang di udara, mengiris percakapan kita. Orang-orang di sekitar bergerak, roda koper beradu dengan lantai, anak kecil menangis karena harus berpisah dengan neneknya, dua mahasiswa tertawa menutupi canggung. Perpisahan, rupanya, tidak pernah mau sendirian. Ia selalu datang bergerombol.
Aku melirik jam di papan digital: 17.09. Angka itu menyala merah, menuntut kejujuran.
Tujuh puluh… enam puluh… rasanya seperti dihitung mundur menuju ketinggalan.
“Kau ingat?” tanyamu tiba-tiba. “Dulu kita pernah bahas soal detik?”
Aku mengerutkan dahi. Kau tertawa kecil, lalu menunduk, memperbaiki posisi tali tasmu.
“Kau bilang,” lanjutmu, “kalau cinta itu bukan soal tahun, tapi soal detik-detik kecil yang kita pilih untuk tetap tinggal. Dan sekarang… aku mau kau punya detik-detik lain, yang nggak harus menungguku.”
Aku tidak menjawab. Karena yang tidak kau tahu adalah: aku tidak pernah ingin punya detik-detik lain. Aku ingin punya detik-detik yang isinya kamu.
Kereta mulai merayap masuk stasiun. Desisnya pelan, tapi dalam kepalaku ia terdengar seperti pisau yang menyeret lantai. Angin dari gerbong yang melaju meniup ujung jilbabmu, dan sejenak aku ingin menghentikan semuanya. Menghilangkan suara roda, meredupkan pengeras suara, mengusir semua orang dari peron, lalu menahammu di sini — di sebelahku — di dunia kecil yang kita buat dari percakapan panjang dan rencana yang terlalu manis.
Tapi hidup tidak pernah mau memakai kacamata kita.
“Kalau aku bilang aku nggak rela?” tanyaku akhirnya.
Kau menatapku. Mata yang selama ini jadi rumah, kini bersiap menjadi jendela. “Kau boleh nggak rela. Tapi jangan membenci,” katamu pelan. “Jangan benci dirimu karena tidak bisa menahanku. Jangan benci aku karena memilih pergi. Jangan benci jarak. Jarak itu cuma cara Tuhan menguji: cinta ini benar, atau cuma nyaman.”
Kereta berhenti. Pintu terbuka. Orang-orang mulai naik.
Di sinilah waktu itu mulai mengecil.
Seorang petugas melambaikan tangan, tanda “segera naik.” Kau menoleh lagi padaku. Ada yang bergetar di dagumu, tapi kau tahan. Kau pandai sekali menahan air mata. Dari dulu.
“Aku punya tujuh detik,” katamu tiba-tiba.
“Apa?” aku mengerjap.
“Tujuh detik sebelum aku benar-benar pergi. Sebelum kereta bergerak. Sebelum semuanya kita jadikan ingatan. Kita pakai ya?”
Aku hampir tertawa, hampir marah, hampir memelukmu sekaligus. Tapi aku tahu: ini adalah percakapan terakhir yang akan kita lakukan berjarak lengan. Setelah ini kita cuma akan jadi notifikasi, suara yang pecah karena sinyal, dan kalimat-kalimat yang dikirimkan terlalu malam.
“Baik,” kataku. “Tujuh detik.”
Kau mengangguk. “Kau yang hitung.”
Aku menelan ludah. Orang-orang sudah masuk. Hanya kita yang belum. Peron sedikit lengang dan di situ aku sadar: Tuhan memberiku ruang untuk bersedih dengan anggun.
Aku mendekat satu langkah. Jarak kita tinggal setengah pelukan.
“Kau siap?” tanyaku.
“Siap,” jawabmu. Tapi aku tahu kau berbohong. Tak ada yang siap.
Aku mengangkat tangan, menempelkan ke pipimu. Kau menutup mata.
“Mulai,” katamu.
Dan kita masuk ke tujuh detik yang paling panjang dalam hidupku.
Detik pertama.
Aku mencium keningmu. Hangat. Wangi parfum yang sama — aroma kayu manis dan hujan. Dalam detik ini aku ingin berkata: andai semua perjalanan adalah pulang. Tapi bibirku hanya menyentuh peluhmu, dan doa itu kusimpan di dada.
Detik kedua.
Aku menatap matamu. Kau membuka mata, dan kita saling melihat seperti dua orang yang terdampar di pulau yang berbeda tapi saling melihat lewat mercusuar. Di matamu ada seribu percakapan yang belum selesai: tentang rumah yang mau kita sewa, tentang dapur kecil yang mau kita isi wajan dan cerita, tentang anak yang mau kita ajarkan menulis. Semuanya menggulung jadi satu kata: tunggu. Tapi kau tidak mengucapkannya.
Detik ketiga.
Kau menggenggam tanganku. Erat. Seperti menahan sesuatu yang sebentar lagi harus kau lepaskan. “Kau jangan lupa makan,” kau berbisik bodoh di tengah perpisahan. Aku hampir tertawa dan menangis sekaligus. Di momen mau pergi pun kau masih berpikir: aku mungkin akan terlalu sibuk merindukanmu sampai lupa makan.
Detik keempat.
Aku mendekapmu sepenuhnya. Tidak peduli orang melihat. Tidak peduli peluit sudah siap ditiup. Tubuhmu kurasakan gemetar. Inilah detik paling jujur: tubuh tak bisa berbohong. Cinta tak bisa disamarkan. Kalau saja dunia punya sopan santun, ia akan menjauh beberapa meter dan membiarkan dua manusia ini berpisah dengan tenang.
Detik kelima.
Kau menarik napas panjang di bahuku. “Maaf,” katamu. Hanya satu kata. Tapi semua tahun yang kita lewati runtuh dari satu pintu. Maaf karena tak bisa tinggal. Maaf karena mimpi kita punya peta yang berbeda. Maaf karena memilih mengejar beasiswa itu. Maaf karena tak bisa memintaku ikut. Maaf karena cinta tidak selalu berarti memeluk — kadang artinya memberi jalan.
Detik keenam.
Aku melepaskanmu sedikit, hanya supaya aku bisa melihat wajahmu sekali lagi dalam jarak manusiawi. Aku ingin menyimpannya dengan jelas, tanpa blur air mata. Rahangmu, garis alis, tahi lalat kecil di bawah bibir. Aku ingin — kelak ketika kangen datang jam 1.43 pagi — aku bisa memanggil ingatan ini utuh-utuh. “Aku bangga sama kamu,” kataku. Aku tidak pernah lupa mengatakannya ketika seseorang memilih bertumbuh, meski artinya ia menjauh dariku.
Detik ketujuh.
Ini detik paling sulit. Karena detik ketujuh adalah detik melepas. Bukan mendekap, bukan memohon. Ini detik di mana tangan harus turun, senyum harus dinaikkan lagi, dan hati harus rela jadi penonton. Aku mundur satu langkah. Kau melangkah ke pintu. Kita masih saling menatap. Kereta bersiap bergerak.
“Aku akan pulang,” katamu.
“Kereta selalu begitu,” jawabku. “Yang kita nggak tahu cuma: kapan.”
Pintu tertutup.
Kereta mulai bergerak.
Dan seketika tujuh detik itu berubah jadi tujuh abad.
Aku berdiri di sana sampai kereta benar-benar menghilang dari pandangan. Sampai suara besinya hanya jadi gema. Sampai peron kembali jadi ruang biasa yang dilewati lalu-lalang. Sampai kenyataan menamparku pelan: kau sudah pergi.
Tapi ada sesuatu yang kau tinggalkan.
Bukan koper. Bukan selendang. Bukan buku catatan.
Kau tinggalkan kalimat ini di kepalaku: “Cinta bukan tentang siapa yang bertahan paling lama di satu tempat, tapi siapa yang berani tetap mencintai ketika tempatnya berbeda.”
Hari itu aku pulang sendirian. Tapi tidak kosong. Karena ternyata, tujuh detik sebelum kau pergi, kau sudah memulangkan aku pada diriku sendiri — seseorang yang boleh mencintai tanpa harus selalu memiliki, seseorang yang boleh menunggu tanpa harus menghukum, seseorang yang boleh berkata: aku merelakanmu, tapi aku tidak akan berhenti mencintaimu.
Dan kalau suatu hari nanti kau benar-benar kembali, entah dengan gelar baru, hidup baru, atau hati yang baru… aku hanya berharap satu hal:
Semoga kau masih ingat, bahwa pernah ada seorang yang menghitung tujuh detik bersamamu — dan di detik terakhir, ia memilih tidak membencimu.




