Seperti kebanyakan malam minggu, anak muda akan selalu punya cara untuk menikmatinya. Ada yang memilih duduk lama bersama keluarga, ada yang menertawakan hidup bersama teman, ada pula yang tenggelam dalam hobi yang membuat waktu lupa berjalan.
Namun, 27 Desember 2025 menjadi malam minggu terakhir untuk anak muda 18 tahun itu.
Malam yang tampak biasa, tetapi diam-diam menyimpan perpisahan.
Anak lelaki berusia 18 tahun itu berpamitan untuk mendaki bersama temannya, Himawan Haidar Bahran.
Sebuah rencana sederhana: naik dan turun Gunung Slamet dalam satu hari.
Tengah malam, keduanya tiba di Basecamp Dipajaya, Pemalang.
Di bawah langit gelap dan hawa dingin, langkah pertama menuju puncak Gunung Slamet dimulai dengan keyakinan yang utuh bahwa mereka akan pulang.
Minggu, jalur pendakian menyambut dengan kabut yang tak sabar turun lebih awal.
Gunung Slamet memang dikenal tak pernah sepenuhnya ramah.
Di balik keindahannya, gunung tertinggi di Jawa Tengah itu menyimpan jalur panjang, perubahan cuaca mendadak, dan kisah-kisah pendaki yang tak selalu berakhir selamat.
Kondisi fisik yang menurun dan angin yang semakin dingin membuat langkah terasa berat, seolah gunung menguji siapa yang benar-benar siap.
Hari Senin menjadi titik balik.
Himawan mengalami kram kaki dan tak sanggup melanjutkan perjalanan turun.
Dalam situasi genting itu, Syafiq memilih pergi sendiri mencari bantuan.
Keputusan yang lahir dari kepedulian, tetapi menjadi perpisahan terakhir.
Sejak langkahnya menjauh, Syafiq tak pernah kembali.
Ia menjadi pendaki hilang di Gunung Slamet, sendirian, entah di mana, tanpa saksi.
Pencarian pun dimulai. Lebih dari seratus personel gabungan Basarnas, Wanadri, Mapala, dan relawan menyisir jalur demi jalur.
Operasi pertama berlangsung selama 13 hari, berhadapan dengan cuaca ekstrem, kabut tebal, dan medan licin.
Ketika operasi resmi dihentikan, relawan tak berhenti.
Jalur-jalur sunyi yang jarang disentuh pendaki mulai ditelusuri, seolah membaca ulang jejak yang mungkin ditinggalkan dengan harapan terakhir.
14 Januari 2026, pencarian itu menemukan jawabannya.
Di jalur punggungan Gunung Malang, dekat Batu Watu Langgar, jauh dari jalur resmi, jasad Syafiq ditemukan.
Di sanalah ia mengakhiri perjalanannya.
Di antara dingin yang menggigit, kabut yang menutup pandangan, dan tanah terjal yang menyiksa, ia bertahan sejauh yang bisa dilakukan seorang remaja.
Kisah ini menambah daftar pendaki gunung Slamet yang meninggal di puncak sana.
Bukan sekadar angka, melainkan nyawa yang pernah bermimpi untuk memenangkan salah satu gunung tertinggi di Jawa.
Sisi Lain Cerita
Gunung memang menjanjikan pengalaman, keindahan, dan cerita yang layak dikenang.
Tetapi gunung juga bisa menjadi tempat terakhir bagi mereka yang datang tanpa cukup persiapan dan pengalaman.
Maka sebelum melangkah menuju puncak gunung, bekali diri sebaik mungkin agar yang tertinggal hanyalah kenangan, bukan sekadar nama.





