Aku adalah Jakarta.
Mereka menyebutku ibu kota, pusat segalanya.
Aku pernah berdiri megah, tegak, tak terkalahkan oleh kota-kota lainnya.
Aku memikul mimpi jutaan manusia yang datang kepadaku dari berbagai arah.
Namun, sedikit dari mereka yang benar-benar mengkhawatirkanku dan bertanya bagaimana kabarku hari ini.
Kini, aku tak sekuat dulu.
Setiap hari aku dipijak, dilalui, dibebani.
Gedung-gedung tinggi dibangun di punggungku.
Jalanan dibentangkan di kulitku.
Kendaraan melewatiku tanpa henti.
Aku memang terlihat hidup, sibuk, tetapi aku menyimpan luka yang terus bertambah setiap harinya.
Para ahli membaca keadaanku melalui angka.
Mereka mengatakan “Setiap tahun, Jakarta kehilangan pijakan. Permukaan tanahnya turun 3-10 sentimeter, dengan beberapa wilayah tenggelam lebih dalam, mencapai 10-12 sentimeter.”
Bagimu, angka itu memang terlihat sederhana.
Namun, bagiku itu adalah rasa sakit yang tak jelas kapan sembuhnya.
Dalam 46 tahun terakhir, aku telah kehilangan 4,5 meter dari diriku sendiri.
Aku perlahan menyusut, tanpa sempat diberi waktu untuk rehat.
Aku disedot tanpa jeda, seolah airku tak akan pernah habis.
Sumur-sumur bor ditancapkan ke diriku melampaui batas.
Para ahli itu mengatakan air tanah seharusnya diambil di kedalaman 20-30 meter saja.
Namun, peringatan itu diabaikan demi kebutuhan manusia yang tak ada cukupnya.
Kini, aku mencoba bertahan sebisanya.
Aku tetap diam meskipun airku diambil lebih dalam.
Aku berusaha tetap menopang mereka meskipun punggungku rasanya semakin berat.
Aku membiarkan manusia hidup di atasku, berharap mereka akan sadar jika aku juga punya batas.
Sayangnya, hari demi hari, mereka masih menganggap aku baik-baik saja.
Air yang masih terus mengalir.
Bangunan yang masih berdiri.
Semua itu jadi alasan untuk mereka membiarkanku sakit sendirian.
Mereka tak pernah mau tahu bahwa aku semakin melemah dan retak perlahan.
Sebagai pengingat, Tugu Penurunan Tanah Jakarta kini didirikan di atasku.
Ini bukan sekadar monumen.
Ini adalah pengakuan atas fenomena land subsidence yang telah menemaniku puluhan tahun.
Ini adalah bentuk teriakanku kepada para manusia yang tak pernah ada rasa cukupnya.
Sisi Lain Cerita
Jakarta adalah bagian dari alam yang telah memberikan air, tanah, dan ruang hidup secara cuma-cuma.
Ia tak pernah meminta imbalan.
Namun, bukan berarti ia diciptakan tanpa batas.
Dan seharusnya, manusia yang mengambil apa-apa darinya perlu menjadikan rasa cukup sebagai bentuk hormat kepadanya.
Terinspirasi dari kisah nyata.Ditulis ulang oleh tim Semesta Bercerita untuk menghadirkan makna dari sisi lain kehidupan.





