Akhir 2025 lalu tak ada lagi rutinitas bermain dari lima anak Riau itu.
Hari itu orang tua mereka tak lagi bisa memeluk seperti hari-hari biasa.
Virus super flu telah mengubah segalanya, memutus cita-cita, melukai hati, dan meninggalkan ruang kosong yang tak akan pernah terisi.
Awal 2026 seharusnya menjadi lembar baru.
Namun, tahun ini justru dibuka dengan kabar yang membuat dada sesak: penderita super flu terus bertambah.
Super Flu tak hanya hadir sebagai penyakit musiman, melainkan momok yang diam-diam menyusup ke rumah-rumah, sekolah, dan ruang bermain anak-anak.
Ini bukanlah virus asing.
Virus influenza ini bermutasi menyebabkan gejala yang lebih buruk, lebih menakutkan, lebih mematikan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Di titik ini, super flu jadi ancaman nyata.
Sayangnya, masih banyak dari kita yang menyepelekannya.
“Lingkungan yang kotor, gaya hidup yang buruk, dan kondisi kesehatan yang tidak baik jadi salah satu penyebab utamanya,” begitu tutur epidemiolog.
Karenanya, ini bukan sekadar persoalan medis.
Ini adalah cermin dari cara hidup kita.
Sering kita lupa bahwa virus tidak datang dengan sendirinya.
Manusialah yang membukakan pintu untuknya.
Rumah yang jarang dibersihkan, udara yang tercemar, kebiasaan mencuci tangan yang dianggap sepele, hingga pola makan yang jauh dari kata sehat, semuanya menjadi jalan bagi super flu untuk berkembang.
Lima anak itu seharusnya masih ada di dunia, berlari, tertawa di sela jam pelajaran, pulang dengan seragam kusut karena bermain terlalu lama.
Namun, jika kini mereka hanya tinggal nama, akankah kita sepenuhnya menyalahkan virus influenza?
Atau justru pada kelalaian yang tak pernah benar-benar peduli pada kesehatan tubuh dan lingkungan kita?
Kini, super flu itu bukan cuma sekadar analisis para akademisi.
Ia terasa semakin nyata, terus menghantui.
Jumlah penderitanya makin bertambah.
Gejalanya sama, batuk, sesak, dan tubuh lemah, tetapi dampaknya berbeda bagi setiap orang.
Ada yang pulih, ada pula yang tak sempat berpamitan dengan keluarganya.
Rasa-rasanya, di awal 2026 ini, kita sudah terlalu sering disuguhi kabar duka.
Dipikir-pikir, tahun baru masih beberapa hari berjalan, tetapi semuanya mulai terasa berat dan menyesakkan.
Super flu jadi salah satu kabar duka itu.
Super flu menjadi salah satu pengingat paling pahit bahwa kesehatan bukan perkara nanti, bukan urusan orang lain.
Ini tentang apa yang bisa kita lakukan sekarang dan semua itu harus dimulai dari diri sendiri.
Sisi Lain Cerita
Menjaga kebersihan, pola hidup sehat, dan kesadaran bersama mungkin terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi pembatas antara hidup dan kehilangan.





