Hujan turun perlahan malam itu, menetes di genting rumah seperti jari-jari yang mengetuk tanpa ingin dibukakan pintu. Suaranya lembut, nyaris menenangkan, tapi bagi Faris, setiap tetes terdengar seperti sesuatu yang jatuh dan tidak akan kembali.

Ia berdiri lama di hadapan sajadah yang sudah digelar sejak magrib. Lampu kamar redup, hanya cukup menerangi lipatan kain sajadah yang mulai menipis di bagian tempat keningnya biasa bersujud. Waktu terasa berjalan sangat lambat, atau mungkin hanya perasaannya saja yang menolak bergerak.

Sudah dua tahun sejak Aisyah meninggal.
Dua tahun sejak dunia tetap berjalan seperti biasa, tapi sesuatu di dalam dirinya berhenti tepat di hari itu.

Faris masih salat. Masih membaca doa. Masih melakukan semua gerakan yang dulu terasa ringan. Tapi setiap kali keningnya menyentuh lantai, hatinya tidak pernah benar-benar sampai pada Tuhan. Ia selalu tersesat di tempat lain, di ruang-ruang kenangan yang tidak pernah selesai ditutup.

Dan di ujung setiap kenangan… selalu ada satu nama yang menunggu dipanggil.

Namanya.

Faris mengenal Aisyah di toko buku kecil yang hampir tak pernah ramai. Tempat itu tersembunyi di sudut jalan lama, di antara bengkel motor dan toko fotokopi yang lampunya selalu berkedip. Rak-raknya berdebu, bukunya sebagian besar cetakan lama, dan kipas angin di langit-langit berputar malas seperti enggan bertahan hidup.

Hari itu listrik mati. Hanya cahaya sore yang masuk dari jendela besar, membelah ruangan menjadi dua bagian: terang dan redup. Faris duduk di lantai, membaca buku bekas dengan sampul yang hampir terlepas. Di seberangnya, seorang perempuan duduk bersandar di rak, memeluk buku di pangkuannya.

“Kamu sering ke sini?” tanya perempuan itu tanpa mengangkat kepala.

Faris menoleh, sedikit terkejut. “Lumayan.”

“Kenapa?”

Ia berpikir sebentar. “Karena di sini orang tidak perlu terlihat baik-baik saja.”

Perempuan itu akhirnya menoleh. Matanya tenang, tapi ada sesuatu yang lelah di sana.

“Iya,” katanya pelan. “Aku juga suka itu.”

Namanya Aisyah.

Sejak hari itu, mereka sering bertemu. Tidak pernah janjian, tapi hampir selalu ada di waktu yang sama. Kadang membaca, kadang berbicara, kadang hanya duduk diam mendengarkan suara jalanan di luar. Hubungan mereka tumbuh tanpa definisi yang jelas — seperti tanaman liar yang menemukan caranya sendiri untuk hidup di celah sempit.

Faris tahu ia mencintainya bukan saat mereka tertawa, bukan saat mereka berjalan bersama, melainkan suatu sore ketika Aisyah menutup buku, menatap langit jingga di luar jendela, lalu bertanya dengan suara yang sangat pelan,

“Kalau hidup tidak panjang… menurutmu apa yang paling penting sebelum pergi?”

Faris tidak berpikir lama. “Memiliki seseorang yang membuat kita ingin tetap tinggal.”

Aisyah tidak menjawab. Tapi matanya berkaca-kaca, dan senyum kecil yang muncul di wajahnya terasa seperti sesuatu yang terlalu rapuh untuk disentuh.

Penyakit itu datang tanpa suara.
Awalnya hanya kelelahan yang tidak wajar. Lalu pingsan yang terlalu sering. Lalu pemeriksaan yang terlalu lama. Hingga akhirnya kamar rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering mereka kunjungi daripada toko buku.

Aisyah tidak pernah banyak mengeluh. Ia hanya menjadi lebih diam, lebih sering memandangi sesuatu yang tidak terlihat orang lain.

Suatu malam, ketika lampu kamar rawat sudah diredupkan dan suara langkah perawat semakin jarang, Aisyah berbisik,

“Aku takut.”

Faris yang sedang memegang buku langsung menoleh. “Takut apa?”

Aisyah tidak menjawab segera. Ia menatap langit-langit putih yang dingin, seolah sedang membaca sesuatu di sana.

“Aku takut… tidak sempat hidup cukup lama untuk menjadi kenangan yang hangat.”

Faris menggenggam tangannya erat. “Kamu sudah melakukannya.”

Aisyah tersenyum kecil, tapi matanya memejam lebih lama dari biasanya.

Hari-hari berikutnya Faris belajar hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya — menghafal jadwal obat, memahami perubahan kecil pada napas seseorang, mengenali jenis diam yang berarti lelah dan jenis diam yang berarti menahan sakit.

Suatu malam, ketika Faris membantu merapikan selimutnya, Aisyah berkata,

“Kalau aku pergi nanti… jangan berhenti menyebut namaku di doamu.”

Faris mengangguk cepat. “Aku janji.”

Aisyah menatapnya lama sekali, seolah ingin memastikan janji itu benar-benar akan hidup lebih lama dari tubuhnya.

“Bukan supaya aku kembali,” katanya pelan. “Tapi supaya aku tidak benar-benar hilang.”

Hari itu akhirnya datang. Tanpa peringatan yang dramatis. Tanpa kalimat panjang yang layak dikenang.

Aisyah hanya menatap Faris lama sekali. Tatapan yang begitu dalam sampai Faris merasa dirinya sedang dilihat bukan sebagai seseorang yang hadir, tapi sebagai seseorang yang akan ditinggalkan.

“Terima kasih… sudah membuatku ingin tinggal,” bisiknya.

Itu kalimat terakhirnya.

Faris tidak sempat menjawab. Tidak sempat memanggil namanya. Tidak sempat menepati janji yang pernah ia ucapkan dengan begitu mudah.

Sejak hari itu, Faris tidak pernah benar-benar berani menyebut nama Aisyah dalam doa. Setiap kali hendak mengucapkannya, tenggorokannya seperti menutup sendiri. Ia takut — karena menyebut nama itu berarti mengakui bahwa Aisyah memang sudah pergi.

Dan ia belum siap hidup di dunia yang mengakui itu.

Malam ini hujan turun lagi. Sama lembutnya seperti dulu. Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Faris berdiri di atas sajadah dengan tangan gemetar, seolah seluruh tubuhnya tahu sesuatu akan berubah malam ini.

Ia memulai salat perlahan. Setiap gerakan terasa berat, seperti membawa sesuatu yang lama dipendam di dada. Ketika sampai pada sujud, napasnya mulai tidak teratur. Dahi menyentuh lantai. Hening memenuhi telinganya.

Ia mencoba membaca doa seperti biasa. Tapi kata-kata tidak terbentuk.

Dan tanpa ia rencanakan… satu nama terlepas dari bibirnya.

“Aisyah…”

Dadanya langsung sesak. Air mata jatuh sebelum sempat ia tahan. Ia ingin berhenti, ingin menelan kembali nama itu, ingin kembali menjadi orang yang kuat.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

“Aisyah…” bisiknya lagi.

Kenangan datang tanpa bisa dicegah — tawa di toko buku, cahaya sore di jendela, tangan yang pernah digenggamnya, suara lembut yang pernah memintanya untuk tidak melupakan.

Faris menangis dalam sujud.

Untuk pertama kalinya… ia tidak melawan.

Ia tidak meminta. Tidak memohon. Tidak menawar takdir.

Ia hanya menyebut nama itu berulang-ulang, seperti seseorang yang akhirnya berani mengakui bahwa kehilangan memang nyata… tapi cinta juga tetap nyata.

Sujud itu lama sekali.

Ketika Faris akhirnya mengangkat kepalanya, napasnya berat, tapi dadanya terasa lapang — seperti ruang yang akhirnya dibuka setelah terlalu lama terkunci.

Ia baru mengerti sesuatu malam itu.

Doa tidak selalu tentang meminta sesuatu kembali. Kadang doa hanya tentang menjaga seseorang tetap hidup… di tempat yang tidak bisa disentuh waktu.

Sejak malam itu, setiap sujud terakhir Faris selalu menyebut satu nama. Tidak dengan tangis. Tidak dengan penolakan. Tapi dengan tenang, seperti seseorang yang akhirnya berdamai.

Jika suatu hari seseorang bertanya kapan terakhir kali ia menyebut nama Aisyah, Faris akan tersenyum pelan.

“Dalam sujud,” katanya.
“Sujud yang akhirnya membuatku rela.”


PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

PENGHARGAN BULANAN — TOP CONTRIBUTOR

Jadilah Kontributor Terbaik dan raih apresiasi setiap bulan. Dapatkan Merchandise Eksklusif dari Semesta Bercerita sebagai bentuk penghargaan atas kontribusimu.

Kami menghargai setiap Penjelajah Cerita yang hadir, berinteraksi, dan menjaga semesta ini tetap hidup. Setiap bulan, kami akan memilih Top Contributor — mereka yang aktif membagikan snap story, meninggalkan komentar, melakukan tag, dan ikut bersuara di setiap kisah yang kami bagikan. Karena setiap dukungan, sekecil apa pun, berarti bagi semesta ini.

Di dunia yang terus berlari, kita perlahan kehilangan jeda untuk benar-benar merasa. Banyak hal dibiarkan mengendap; kata yang tidak sempat terucap, perasaan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Kita tertawa di hadapan ramai, namun diam-diam menyimpan sunyi yang memantul di dalam dada. Lalu waktu berlalu begitu saja. Tanpa kita sadari, ada bagian dari diri yang ingin didengar, ingin dipeluk, ingin diberi ruang untuk jujur tanpa harus kuat setiap saat.


Semesta Bercerita tercipta sebagai ruang yang pelan, tempat kata menemukan makna, luka menemukan jeda, dan jiwa beristirahat tanpa perlu menyembunyikan apa-apa. Di sini, setiap kisah dihargai, setiap suara berarti, dan setiap rasa diterima apa adanya. Kami percaya bahwa cerita mampu menyembuhkan, mempertemukan, dan menyalakan kembali cahaya kecil di dalam diri. Di antara sunyi dan suara, kita akan tumbuh bersama: menulis, mendengar, dan saling menguatkan, satu cerita pada satu waktu.

Di dunia yang terus berlari, kita perlahan kehilangan jeda untuk benar-benar merasa. Banyak hal dibiarkan mengendap; kata yang tidak sempat terucap, perasaan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Kita tertawa di hadapan ramai, namun diam-diam menyimpan sunyi yang memantul di dalam dada. Lalu waktu berlalu begitu saja. Tanpa kita sadari, ada bagian dari diri yang ingin didengar, ingin dipeluk, ingin diberi ruang untuk jujur tanpa harus kuat setiap saat.


Semesta Bercerita tercipta sebagai ruang yang pelan, tempat kata menemukan makna, luka menemukan jeda, dan jiwa beristirahat tanpa perlu menyembunyikan apa-apa. Di sini, setiap kisah dihargai, setiap suara berarti, dan setiap rasa diterima apa adanya. Kami percaya bahwa cerita mampu menyembuhkan, mempertemukan, dan menyalakan kembali cahaya kecil di dalam diri. Di antara sunyi dan suara, kita akan tumbuh bersama: menulis, mendengar, dan saling menguatkan, satu cerita pada satu waktu.

Di dunia yang terus berlari, kita perlahan kehilangan jeda untuk benar-benar merasa. Banyak hal dibiarkan mengendap; kata yang tidak sempat terucap, perasaan yang tidak tahu harus pulang ke mana. Kita tertawa di hadapan ramai, namun diam-diam menyimpan sunyi yang memantul di dalam dada. Lalu waktu berlalu begitu saja. Tanpa kita sadari, ada bagian dari diri yang ingin didengar, ingin dipeluk, ingin diberi ruang untuk jujur tanpa harus kuat setiap saat.


Semesta Bercerita tercipta sebagai ruang yang pelan, tempat kata menemukan makna, luka menemukan jeda, dan jiwa beristirahat tanpa perlu menyembunyikan apa-apa. Di sini, setiap kisah dihargai, setiap suara berarti, dan setiap rasa diterima apa adanya. Kami percaya bahwa cerita mampu menyembuhkan, mempertemukan, dan menyalakan kembali cahaya kecil di dalam diri. Di antara sunyi dan suara, kita akan tumbuh bersama: menulis, mendengar, dan saling menguatkan, satu cerita pada satu waktu.

© 2025 SEMESTA BERCERITA - ALL RIGHTS RESEVED

© 2025 SEMESTA BERCERITA - ALL RIGHTS RESEVED

© 2025 SEMESTA BERCERITA - ALL RIGHTS RESEVED

SEMESTA

MENU

SEMESTA

MENU

SEMESTA

MENU