Kaki mungil itu menggigil dalam sepatu sekolah yang sudah lapuk. Angin pagi menyelinap lewat lubang di sol kanan, membawa aroma anyir lumpur dari sawah sebelah sekolah.
Robi mengepal buku tulis di dada, ujung jarinya meraba sobekan kecil di sampul buku yang sudah ditambal selotip. Matanya menatap deretan sepatu mahal milik teman-temannya yang mengilap di rak. Tapi yang membuatnya tersedak adalah bau parfum melati — persis seperti yang selalu dipakai Mamanya sebelum meninggal setahun lalu.
Seketika, muncul bayangan saat Mamanya mengusap rambutnya, hangat dan samar seperti sinar bulan melalui jendela yang kotor.
Di ujung lorong, Bu Wati, guru matematika berjalan cepat. Gesper sabuknya berderik seperti suara jangkrik malam.
“Yang tidak ikut study tour ke Jogja, tetap di kelas!”
Sambil melempar pandangan ke arah Robi.
Nada suaranya datar, tapi mata itu menyipit sebentar — sebuah ekspresi yang sering membuat Robi merasa seperti semut di bawah kaca pembesar. Kursi kayu yang dingin menempel di betis saat ia duduk sendirian.
Dari jendela, ia melihat bus ber-AC penuh tawa teman-temannya. Kaca jendela berembun oleh napasnya yang pendek. Telapak tangannya menekan perut yang keroncongan — sejak kemarin ia hanya makan nasi dengan garam. Butiran garam itu masih tersangkut di sela gigi, meninggalkan rasa asin yang membuatnya haus.
Malam itu, Robi menemukan kardus berdebu di kolong tempat tidur. Ketika ia menariknya keluar, debu beterbangan seperti serpihan salju kotor.
Isinya: puluhan kaus kaki rajutan tangan dengan motif aneh — ada yang kepalanya terlalu besar, warnanya pudar seperti langit senja, ada yang jempolnya menjulur seperti lidah ular.
Benang-benang itu kasar di telapak tangan, tapi ada kehangatan aneh yang merambat dari rajutan yang tidak rapi.
Sehelai kertas terlipat rapi di dasar kardus:
“Untuk Robi tercinta,
Mama baru belajar merajut.
Maafin kalau jelek, ya, Nak.”
Tanggalnya tertulis seminggu sebelum Mamanya meninggal.
Bau kamper menusuk hidung, tapi Robi memeluk erat kaus kaki itu seperti menggenggam tangan yang sudah hilang, sementara air matanya menetes membasahi rajutan biru yang ternyata mirip bentuk awan.
Keesokan pagi, Robi datang dengan kaus kaki merah bergambar kelinci cacat di pergelangan kaki. Karetnya longgar, tapi ia mengikatnya dua kali supaya tidak melorot.
Rina, si ketua kelas, menyeringai.
“Dasar anak miskin, pakai barang rongsokan!”
Suaranya nyaring memecah riuh kelas, tapi Robi hanya mengeratkan gigi sampai rahangnya sakit.
Setibanya di kantin, ia membuka tas berisi 30 pasang kaus kaki rajutan. Sinar matahari dari jendela menyoroti benang emas di salah satu motif bintang — ternyata Mamanya menyelipkan benang glitter di beberapa pasang.
“Dijual sepuluh ribu saja,” bisiknya pada Dani yang sering tak bawa bekal.
Bau tempe goreng dari piring sebelah membuat perutnya meringis. Lidahnya mengecap rasa asam di mulut yang kosong, tapi ia terus tersenyum.
Sepulang sekolah, Robi duduk di bangku taman dekat pos ronda. Tangannya mengusap-usap kaus kaki wol bergaris yang belum laku, teksturnya kasar tapi terasa hangat seperti pelukan.
Tiba-tiba, ia mendengar suara Dani dari balik pagar:
“Nenekku di RS lagi kritis... katanya kakinya dingin terus.”
Robi menoleh. Dani sedang menelepon sambil menangis, suaranya pecah seperti gelas yang jatuh di lantai.
Tanpa pikir panjang, Robi merogoh tas dan mengambil sepasang kaus kaki paling tebal. Benang wol itu masih menyimpan aroma kamper dari kardus Mamanya — bau yang dulu selalu menenangkannya saat demam.
Ia bersama Dani berlari ke arah rumah sakit yang tidak jauh dari rumah. Kaki kecilnya menjejak tanah berbatu seperti Mamanya dulu berlari ke apotek saat Robi sakit.
Pukul tiga sore, Robi tiba di rumah sakit. Sakunya penuh koin berdentang setiap melangkah, seperti musik perkusi dadakan.
Sambil bertanya pada suster terdekat, keringat mengucur di lehernya yang kurus. Di ruang perawatan, seorang nenek yang ia kenali terbaring dengan kaki membiru. Lampu neon berkedip-kedip memantulkan bayangan tipis di wajahnya yang keriput.
“Ini untuk Nenek,” ujarnya menyerahkan kaus kaki wol tebal.
Tangan keriput itu menggenggam erat, urat-urat biru di punggung tangan berdenyut perlahan.
“Ini... rajutan tangan?”
Nenek itu tersenyum getir.
“Dulu suamiku juga suka merajut...”
Suaranya terputus oleh derit monitor jantung.
Robi tak sempat bertanya lebih banyak karena suster bergegas masuk membawa troli obat. Ia pergi dengan perasaan aneh di dada — seperti ada benang merah yang terhubung antara rajutan Mamanya dan senyum nenek tadi.
Hari kedua, Robi dikejutkan oleh antrean di depan kelasnya. Sinar pagi menyoroti wajah-wajah yang biasanya menghina, kini berkerut penuh penyesalan.
Dani berdiri paling depan dengan mata berkaca-kaca.
“Aku mau yang motif kura-kura,” sambil menyodorkan uang lima belas ribu.
Uang itu lembap oleh keringat tangannya.
Robi melihat coretan di uang kertas:
“Terima kasih untuk kaus kaki nenek. Dia pergi dengan tenang.”
Tinta birunya luntur, seolah ditulis terburu-buru.
Di sudut ruangan, Bu Wati memeluk erat kaus kaki gajah bermata belang yang baru ia beli dari Robi — motif yang sama persis dengan gambar di buku mewarnai anaknya, yang ia lihat saat anaknya masih hidup.
Minggu depannya, Robi berdiri di depan makam Mamanya dengan sepatu baru. Solnya tak lagi berlubang, tapi masih terasa asing di kakinya yang sudah terbiasa dengan dinginnya tanah.
Di atas nisan, ia letakkan kaus kaki bergambar hati yang dirajutnya semalaman — dari benang merah menyala seperti pelukan yang tak sempat diberikan, dengan satu tusukan jarum tertinggal di jempol sebagai bukti darah yang ia korbankan.
Angin sore membelai rambut Robi, membawa bisik-bisik Mamanya yang seolah berkata,
“Cinta itu seperti rajutan — tak harus sempurna, yang penting tetap menyatukan.”




