Raja siang sudah merangkak di ufuk timur, kendati pasar itu masih kelam dikuntum lembab oleh guyur hujan tadi malam. Fajar pagi tak dapat masuk sejengkal pun, karena cahayanya dibantengi oleh gedung-gedung tinggi perusak langit.
Air selokan benar sudah tak lagi menguap, namun air kencing mencit-mencit penghuninya telah bertebaran di lapak-lapak pedagang pasar. Tak seorang pun memedulikan, biarlah serdadu imun tubuh yang berperang dengan hal itu, pikir mereka. Karena kalau kesadaran otak yang memedulikannya, sama saja mati konyol; mati tak ada duit, mati kelaparan; dikubur, mati dijerat hutang penyewaan lahan.
Tak lebih pasar itu adalah peta luka, tempat kepahitan hidup dirayakan tanpa suara. Di sana “kemiskinan” memang tak pernah berbentuk lisan, namun selalu terlukis di setiap kerutan dahi.
Kendati begitu, bukanlah hal-hal demikian yang menjadi alasan pokok bagi Sarmin untuk dirinya ikut terlentang di kekumuhan ini. Melainkan, di pasar yang dilingkari gerobak sampah ini, adalah tempat mengais kata-kata yang akan mengurai menjadi sajak. Bahwa baginya hidup sangat penuh metafora—bau amis ikan teri, sayur busuk yang tak sempat dibersihkan, suara kursi patah di keramaian warung, ataupun peluit juru parkir liar, yang terdengar lebih romantis daripada puisi cinta.
Tapi tetap saja, metafora tak bisa membayar sewa kamar atau membeli sebungkus nasi.
Sarmin duduk di sudut warung yang suasananya tak pernah berubah; bangku kayunya masih goyah, aroma gorengan yang bercampur dengan bau minyak tanah, dan Sarmin menulis di atas nota bekas bertemankan kopi hitam yang tinggal setengah. Sepiring nasi uduk tengah mengepul di hadapan, tapi tetap saja, ia hanya sibuk mencoret-coret di kertas lusuh.
“Jangan terlalu larut, Sarmin,” suara datang bernada ringan — suara yang tak asing bagi Sarmin. Ialah suara Kiran menyapa, salah seorang pekerja wanita di gedung tinggi yang merusak keindahan langit itu. Kiran datang dengan sepiring nasi berlaukkan tempe orek, dan telur dadar yang sudutnya setengah gosong.
“Makan dulu nasi udukmu,” saut Kiran, “puisi juga butuh energi, bukan?”
Sarmin mendongak, menatap Kiran sejenak.
“Kalau puisi butuh energi, kenapa banyak penyair mati kelaparan?” sanggah Sarmin setengah canda.
Kiran tertawa pelan, duduk di sebelah Sarmin tanpa ragu. Meja dan kursi lapuk ini memang telah menjadi milik bokong mereka berdua.
“Karena mereka terlalu sibuk memaknakan hal-hal gak penting sampai lupa makan,” jawab Kiran menatap kumpulan tempe orek. “Sama denganmu, Sarmin. Jangan pula kau ikut-ikut mati kelaparan.”
Sarmin tersendu tawa. Hanya Kiran yang bisa berucap demikian kepadanya — tanpa beban, tanpa pretensi. Dunia adalah hal sederhana yang ‘sudah biarkan begitu saja’ bagi Kiran.
Sarmin menoleh ke wajahnya, memandangi lebih lama dari biasanya. Kiran menggigit telur dadar yang sudutnya agak gosong, mengunyah pelan-pelan seakan sedang mempertimbangkan sesuatu. Ada setitik kebingungan dalam mata Kiran yang tak dapat Sarmin pahami.
Mungkin saja dirinya dan Kiran tak jauh beda, mungkin mereka adalah sama — yakni dua manusia yang tengah mengisi ruang-ruang kosong dalam kehidupan masing-masing. Pun di luar warung, pasar masih sibuk dengan rutinitasnya. Pedagang masih berteriak menawarkan harga, ikan sungai melenting-lenting di atas talenan, dan lagi, angkot berhenti sembarangan.
Hari kian berlarut, malam yang ganjil menghampiri Sarmin. Ia sedang duduk terkatung menunggu Kiran di tempat yang sungguh terasa asing — warung kopi di atas plafon gedung yang tingginya minta ampun.
Kiran yang memintanya untuk menunggu di sana. Ia tak banyak bicara menjamu permintaan Kiran. Melainkan aneh saja, tak biasanya Kiran mengajak untuk bertemu, terlebih di malam hari. Namun tempat itu begitu terang, tak ada sudut gelap yang enak dibuat untuk mejeng, pun kamera-kamera pengawas menggantung di segala tiang.
Sarmin menoleh ke daftar harga minuman, “Oh mati aku,” sautnya dalam diam.
Menit berselang Kiran pun datang. Ia lenggak-lenggok mendekati Sarmin yang sudah pucat badan.
“Maaf buatmu lama menunggu, Min,” sapa Kiran menarik kursi di sisi Sarmin.
“Jalan arah ke sini selalu macet,” lanjutnya, bersandar melepas lelah.
“Iya, enggak apa-apa,” jawab Sarmin, menyerahkan pamflet minuman kepada Kiran.
“Mau minum apa? Buatku tolong pesankan kopi hitam.”
“Enggak coba yang lain, Min? Kopi pahit terus minumanmu. Coba kayak aku — Matcha Nira, minuman Jepang dikawinkan gula Jawa.”
Sarmin mengangkat alis bersama senyum kecil, menatap Kiran tanpa kata. Merasa bahwa malam ini bukanlah malam untuk berdebat, bukan malam untuk menjabarkan filosofi penyair dengan kopi pahitnya.
Detik pun berganti menit, kopi hitam dan Matcha Koyok Aku tiba di hadapan. Angin laut menghembuskan pesisir ke langit jalan, kendaraan masih dibaris oleh kemacetan.
“Apa kau tak bosan, Min? Menulis puisi di kertas-kertas bekas, di tempat yang sama, dengan kopi yang sama paitnya?"
Dalam mata kosong Sarmin menjawab, “Bosan hanya milik orang-orang yang punya pilihan, Kiran. Tau gak? Sering kubayangkan sungguh enak jadi dirimu.” Ia menghirup permukaan kopi.
“Puisi bagiku adalah tambang hidup di tengah gelap. Sementara, Kir, kau tak membutuhkannya. Bagimu hidup adalah hal yang dijalani dan tak perlu ditanyakan.”
Dengan diam menatap Sarmin, Kiran menjawab, “Kau ada sedikit benarnya, Min. Mungkin hanya aku yang belum benar-benar mengenali duniamu.” Ia menghirup gula jawan yang menghijau.
“Sebenarnya alasan kuajak kau untuk ketemu malam ini, karena besok aku sudah harus pergi. Balik ke kampung halaman... ayahku sudah sakit keras, sulit untuk tetap bertahan di sini.”
Puncak gedung yang tadinya sejuk tiba-tiba menyesakkan.
“Apakah aku punya pilihan, Min? Tak ada yang tahu. Namun seperti yang kau bilang, bosan masih terus kurasakan.”
Sarmin membuang napas. Langit gedung semakin sesak, dihirupnya pahit kopi.
“Mari keluar, Kir...” ujar Sarmin melangsung tegak.
Tanpa sepatah tanya, Kiran mengikuti di belakang.
Tibanya di luar, gelap malam sedang menua ditutupi embun hujan. Pelan langkah mereka menelusuri trotoar jalan. Genangan-genangan air di aspal yang berlubang memantulkan reklame cahaya. Aroma jalan berbaur dengan bau minyak goreng dari gerobak kaki lima. Deretan ruko-ruko sudah menutup, menyisakan lampu neon yang menyala berkedip lelah. Cahaya-cahaya kota benar menjadi kubah, menelan kedip bintang di langit sana.
Sepanjang jalan, rangkulan hangat Sarmin ke pundak Kiran terjadi tanpa sadar. Detik seakan tak berputar, dan malam seolah ikut melambat. Sebuah kursi pedestrian yang menghadap ke bundaran menjadi tempat pemberhentian mereka.
Keduanya melesehkan badan di bahu jalan. Dalam duduk dengan diam, Kiran menjatuhkan dahi ke pundak Sarmin. Lampu-lampu kendaraan yang lalu-lalang melukiskan siluet mereka di aspal yang retak.
Sarmin seakan membawa Kiran ke dunianya — dunia yang tak pernah Kiran pahami, di mana setiap sisi kehidupan adalah diisi metafora. Namun di malam itu, Sarmin seakan lekang dari kepenyairannya, habis — tak ada, hilang kata-kata.
Hanya dalam diamnya Sarmin paham, bahwa kota ini baru saja kehilangan separuh nyawa.
Keesokan pagi, perut keroncongan dan honor-honor puisi yang tak kunjung cair, menghantarkan Sarmin untuk menambah hutang di tengah kumuhnya pasar yang berhadapan dengan gerobak-gerobak pembuangan.
Setiba di sana, di meja lapuk dan kursi goyah tempat biasanya, tak terlihat sosok Kiran. Mungkin Kiran belum datang, atau sudah duluan makan.
Secarik kertas tersangkut di sela-sela retakan meja, di tempat Kiran biasanya duduk. Tanpa panjang lebar Sarmin menjangkaunya.
Tangan Sarmin kaku tak seperti biasa. Perlahan ia buka, rasa lapar tiba-tiba melenyap. Bukan puisi, bukan surat cinta, hanya satu kalimat sederhana:
“Meski aku tak bisa abadi di hidupmu, Min, jangan bunuh aku di puisimu.”





