Daun jendela kamarnya terbuka lebar, membuat ujung tirai yang menjuntai melayang lembut tersapu angin. Perlahan cahaya matahari yang beranjak tenggelam, menyusup masuk melewati ventilasi udara. Rona senja itu menyentuh sendu wajahnya. Ia masih saja terpaku menatap pakaian adat pernikahan bernuansa Melayu yang menggantung rapi di gagang lemari tua di sudut kamarnya. Hampir satu jam Raya duduk di tepi kasur memikirkan hari pernikahannya.
Di luar kamar, Nek Nida tampak sibuk mengoordinasikan ini itu kepada tetangga dan saudara jauh yang datang untuk bergotong royong mempersiapkan hari pernikahan Raya. Sedap aroma masakan yang diolah ibu-ibu tercium dari dapur sampai ke beranda rumah. Di ruang tengah tampak adiknya Raya bersama teman-temannya tengah menyiapkan dekorasi. Mereka mengolah kertas krep menjadi hiasan langit-langit rumah. Sementara itu, kaum bapak-bapak menikmati sajian kopi sambil menjaga suhu api dari kayu bakar yang digunakan untuk memasak nasi minyak di bawah rumah panggung Nek Nida.
Kesibukan di luar kamarnya tak membuat Raya terusik. Ia tenggelam bersama kenangannya. Tanpa ia sadari, Nek Nida melangkah masuk dan duduk di sampingnya. Nek Nida turut memandang pakaian adat pernikahan yang masih dipandang Raya lekat. Tanpa mengalihkan pandang, Nek Nida berucap lirih, “Nenek tahu ini pilihan berat buat kamu. Demi menjalankan adat, kamu harus menikah agar adikmu tidak melangkahi kamu.” Nek Nida menghela napas panjang sejenak, kemudian melanjutkan ucapannya, “Nenek ikhlas jika kamu menolak pernikahan ini dan Nenek tidak peduli jika keluarga kita dicap sebagai keluarga yang tidak menghormati adat.” Perkataan Nek Nida terdengar menekan, tapi tulus, “Nenek hanya ingin melihat cucu-cucu Nenek bahagia.” Nek Nida menoleh dan menatap Raya.
Raya meraih kedua tangan Nek Nida. Ia menggenggam erat dan mencium tangan neneknya. Sebelum membalas ucapan sang nenek, Raya menahan gejolak di dadanya dan mengubahnya menjadi segaris senyum manis, “Aku juga ingin melihat nenek selalu bahagia. Aku selalu mengupayakan kebahagiaan untuk nenek dan adik, karena cuma nenek dan adik harta yang aku miliki di dunia ini, Nek.” Raya menutup ucapannya dengan menyandarkan kepala pada bahu Nek Nida.
Rona senja meninggalkan kamar. Raya bangkit dari duduknya dan berucap izin pada Nek Nida untuk pergi. Nek Nida mengangguk dan melepaskan Raya yang bergegas lari keluar kamar dengan tatapan penuh kedamaian.
"Sebentar lagi aku pulang," Satria menutup telepon dari istrinya. Ia mengalihkan pandang dari layar laptop ke luar jendela kantor. Tidak seperti biasa, ia tergerak untuk menyaksikan langit sore. Matahari perlahan bergerak turun di balik gedung-gedung tinggi, kilau cahaya keemasannya menghadirkan keromantisan yang penuh kehangatan.
"Udah jalan belum, sih?" Suara istri Satria terdengar memekik saat Satria mengangkat telepon.
"Ini lagi siap-siap. Sebentar lagi aku jemput kamu. OK!!!" Satria mematikan ponselnya dengan kesal. Ia memilih mengabaikan istrinya meski tahu nanti akan mengamuk.
Satria kembali menyaksikan warna jingga yang semakin menipis. Entah kenapa langkahnya terasa berat untuk beranjak pulang. Ia terpaku dalam lamunan. Siluet seseorang di pinggir sungai muncul dalam ingatannya. Pelan lalu menderas, kenangan masa remaja bersama seseorang membanjiri ingatan Satria. Lama ia mengingat-ingat siapa sosok dalam ingatannya, sampai ia menyadari jika warna senja telah berubah menjadi gemerlap kehidupan malam ibu kota.
“Ra …ya,” Satria mengeja nama seseorang.
Sepuluh tahun lalu. Raya dan Satria tengah menikmati momen yang selalu mereka lakukan setiap petang usai. Keduanya diam terpaku menyaksikan raut senja tenggelam di kelokan sungai sambil menghangatkan diri usai puas berenang. Namun, petang hari itu menjadi petang terakhir untuk mereka lewati bersama.
Sebelum petang benar-benar berlalu, Satria berucap lirih pada Raya, “Besok aku pergi. Dinas Bapak sudah selesai di kampung ini. Aku tidak tahu kapan kita akan bertemu lagi, tapi …” Satria ragu melanjutkan ucapannya.
Mendengar ucapan yang sebenarnya sudah diketahuinya, Raya tidak dapat berbuat apa-apa. Tiga tahun bersama Satria menjadi waktu terindah dalam hidupnya. Sejak Satria datang menjadi murid baru di sekolahnya, ia tidak pernah mengira jika ada orang yang mau berteman dan melewati waktu bersama dirinya.
Raya meneteskan air mata yang ia coba tahan sedari tadi. Kesedihan juga tampak memenuhi wajah Satria, ia tidak menyangka hubungan dengan Raya terjalin sejauh ini. Satria menatap Raya, menghapus air mata yang membasahi wajah Raya. “Maafkan aku, Raya. Aku baru bisa mengatakan ini sekarang,” lalu Satria mendekati wajahnya pada Raya. Kedua bola mata Raya terbuka lebar merespon wajah Satria yang semakin mendekat. “Aku mencintaimu, Raya,” ucap Satria tulus.
Raya terdiam. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang yang membuatnya menelan ludah karena tidak mampu berkata-kata. Kini Raya hanya mampu menatap lekat wajah Satria yang berjarak hela napas. Satria tak kuasa lagi menahan gejolak di dalam dadanya, ia mendorong tubuhnya dan mengecup bibir Raya. Cumbu pertama dalam hidup mereka hari ini menjadi kenangan manis dan perpisahan pahit.
Raya membungkuk dengan napas terengah-engah. Tangan kanannya bertumpu pada batang pohon Rengas. Ia mencoba berdiri tegak sambil mengatur napas dan menyeka keringat setelah menerabas jalan setapak menuju tebing kelokan sungai. Beruntung segaris senja masih tertangkap matanya. Sampai hari ini Raya masih melakukan rutinitas ujung petang bersama Satria dulu, meskipun kini hanya dirinya sendiri yang menyaksikan sang surya tenggelam di kelokan sungai. Di ujung petang, Raya memilih untuk mengubur dalam-dalam cintanya pada Satria. Setelah sepuluh tahun setia menunggu, ia akhirnya berdamai dengan kenyataan jika Satria tidak pernah kembali pulang. Raya memantapkan hatinya untuk memulai hidup baru bersama perempuan yang akan ia persunting esok pagi.
Ponsel Satria kembali berdering. Ia mempercepat laju mobil agar tidak terlambat menjemput istrinya, Intan. Perempuan yang dijodohkan orang tuanya setahun lalu itu hingga kini masih perawan. Satria tak pernah tertarik menyentuh tubuh Intan. Percumbuannya dengan Raya, membuat Satria tersesat dalam kebebasan yang tak terbendung. Ia larut dan terbuai akan indahnya setiap lekuk tubuh Raya yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Namun, jarak yang memisahkan mereka membuat Satria berpetualang. Ia terbawa hasrat untuk mencumbui keindahan tubuh laki-laki selain Raya. Kini Satria kembali pada kenyataan hidupnya. Ia terlambat menjemput istrinya, bersiap mendengarkan omelannya, dan menghabiskan malam dengan tidur beradu punggung. Untuk menenangkan diri sebelum terlelap, Satria membuat janji bertemu dengan laki-laki yang ia temukan di aplikasi kencan.





