Semua orang menyebutnya anak mahal. Seluruh mata di sekitarnya memancarkan perharian, kasih, dan rasa sayang. Sorak sorai kegembiraan selalu hadir setiap ia melakukan gerakan kecil. Apalagi tawa dan senyumnya yang datang sesekali itu, seolah mengobati rasa rindu orang-orang di sekitarnya. Mereka menyebutnya anak mahal, seorang anak yang datang setelah puluhan tahun penantian.
Pertama kali bertemu dengan wanita itu, senyumnya yang merekah menyambutku dengan hangat. Matanya yang berbinar dan bersemangat membuatku terus tersihir untuk menatapnya. Momen singkat itu yang membawaku dapat menemaninya di acara megah yang hanya ia lakukan satu kali seumur hidupnya. Layaknya seorang tokoh utama dalam hidupnya, wanita itu duduk dengan anggun. Meskipun semua orang berdandan dan memakai pakaian yang paling cantik, aku tidak bisa luput dari kecantikan yang dipancarkan olehnya, dikelilingi oleh harum bunga yang dijadikan dekorasi di ruangan itu.
Sungguh, itu adalah momen terakhir yang bisa aku ingat karena senyumannya tidak pernah aku lihat lagi. Begitulah, hampir 14 tahun kehidupan ini berlalu dengan monoton. Kehidupan yang terus berulang setiap tahunnya itu tiba-tiba berubah, wanita itu datang kepadaku dengan senyum yang sama seperti saat kita pertama bertemu. Wajahnya berbunga, matanya berbinar, semangat yang kupikir tak akan pernah terlihat muncul kembali. Itu lah saat di mana dia memintaku untuk menyentuh perutnya, merasakan detak yang tak pernah kurasakan sebelumnya, merasakan sebuah jiwa yang mengumpulkan kehidupannya.
“Sekarang, kamu juga harus melindungi kehidupan di perut kecilku. Maaf karena membuatmu menunggu lama.”
Setiap hari sejak hari itu, wanita itu selalu tersenyum bila melihat perutnya yang kian membesar. Sewaktu-waktu dia bernyanyi dengan suara merdunya, atau membacakan cerita untuk dirinya sendiri. Ah, aku berharap waktu berhenti sekarang sehingga senyumnya akan tetap seperti itu dan tidak pudar. Sayang, waktu tidak pernah memberi kita jeda untuk berhenti.
Teriakan yang melolong kesakitan itu bergema. Wanita itu menangis di tengah kubangan darah berwarna merah terang. Tanpa peduli dengan sakit yang dirasakannya, dia terus bersujud dan melafalkan doa, memohon akan kesempatan. Orang-orang segera datang dan membawanya keluar, mencoba untuk menenangkannya. Sisa suaranya yang putus asa mengosongkan pikiranku di tengah aku yang dilumuri oleh darahnya.
Enam bulan selanjutnya, kehidupan terus berjalan. Kehidupan yang sama dan terus berulang. Kali ini wanita itu kembali datang dengan wajah yang sama, ada sedikit gambaran perasaan bahagia, namun didominasi oleh kilatan kekhawatiran di matamu. Ah, bukan kekhawatiran, itu adalah ketakutan. Ya, aku rasa dia takut hal yang sama akan terulang. Kali ini dia tidak menyanyikan lagu atau membacakan cerita. Dia menjadi sangat pendiam, hanya makan dan tidur, tanpa melakukan kegiatan apa pun. Terkadang dia membuka gawainya untuk mencari informasi terkait mencegah kehilangan kehidupan di dalam dirinya.
Seolah pemikiran adalah cerminan dari hal nyata yang dihadapi, tepat saat minggu kelima, perdarahan itu terjadi lagi. Kali ini lebih hebat hingga wanita itu tidak mengeluarkan suara sama sekali hingga sampai di rumah sakit. Kehidupan di dalam dirinya hilang kembali, tidak hanya jiwa yang ada dikandungannya, tetapi juga jiwa yang selama ini menggerakkannya.
Begitulah wanita itu kemudian hanya termenung selama 8 bulan lamanya. Menjadi manusia yang tidak fungsional, bahkan untuk membersihkan dirinya sendiri. Di malam hari, alih-alih nyanyian merdu, dia akan berteriak sambil berusaha menyakiti dirinya sendiri. Hidup dengan anggapan tidak berguna, kehilangan cinta, kehilangan jiwanya. Orang bilang Tuhan memberikan ujian yang dapat diselesaikan oleh kaumnya, namun dua kali hal ini terjadi, bukankah hal ini terlalu kejam?
Setiap hari dia berdoa untuk diberikan kematian, tetapi rasanya Tuhan hanya mempermainkan wanita itu. Ia memberikannya kehidupan, kehidupan kecil yang tumbuh di dalam perutnya lagi. Sungguh, entah ekspresi apa yang harus ditunjukkannya karena kali ini, tidak ada yang meminta kehidupan kecil itu kembali datang.
Tidak seperti sebelumnya, tidak ada darah yang keluar dari rahimnya sampat perut itu terlihat menggembung ke depan. Saat perut itu mulai maju, semakin sering wanita itu memandangi pantulan dirinya melalui cermin. Hingga di satu titik, ia mulai tersenyum, senyum yang tidak pernah aku lihat 15 tahun lamanya. Senyum indah dan mata berbinar yang memancarkan semangat. Begitulah aku menyadari, Tuhan menyelamatkannya, rupanya wanita itu tetap menanti kehidupan kecil ini. Sejak saat itu rumah selalu dihiasi tawa, bahkan ketika kehidupan kecil itu menendang perutmu sedikit saja.
Aku pikir itu adalah akhir yang bahagia hingga tiba-tiba tendangan itu lenyap. Perutnya amat tenang, tapi aku tahu, tidak dengan pikirannya saat ini. Ingatan-ingatan dua kejadian pada satu tahun silam sebelumnya memenuhi kepalamu.
“IUFD¹. Jika ingin memastikan, kita bisa minta rujukan ke rumah sakit agar dapat dilakukan USG fetomaternal².” Wanita itu menggenggamku dengan erat, lalu mengusap air matanya.
“Dokter, tolong, saya ingin mendengar debar jantungnya satu kali lagi. Satu kali lagi saja,” ucap wanita itu dengan tatapan nanar. Pria dengan jas putih itu menghela napas gusar dan mengangguk. Mencoba menggeser alat yang dipegangnya berulang kali. Bunyi itu tidak kunjung hadir hingga pada suatu titik, ruangan itu dipenuhi oleh bunyi kehidupan kecil itu.
Anak mahal. Aku melihatnya terlahir di dunia, membuka matanya, dan mendengar tangisnya. Sungguh penantian yang sangat panjang. Tak terhitung berapa kali suami wanita itu menghapus air matanya, bahagia sekaligus kesedihan yang mendalam. Begitulah senyuman yang wanita itu berikan kepada suaminya sebelum dibius adalah senyuman terakhirnya. Juga, senyuman terakhir yang aku lihat. Alih-alih digunakan untuk menggendong anak mahalmu itu, aku menemanimu masuk ke liang kubur untuk menutup kehidupanmu, sebagai kain jarik yang menemani setiap langkah kehidupanmu.
–fin–
¹ Intrauterine Fetal Death: Kematian janin di dalam rahim setelah usia kehamilan 20 minggu
² Pemeriksaan kehamilan menggunakan gelombang suara, biasanya digunakan pada kasus ibu hamil yang memiliki kehamilan risiko tinggi.





