Rasanya tak pernah ada yang ingin merasakan apa yang dirasakan oleh keluarga para penumpang pesawat itu.
Perasaan panik, bingung, sedih, dan takut bercampur menjadi satu pada Sabtu, 17 Januari 2026, hari ketika kabar tentang kecelakaan pesawat ATR datang seperti petir di siang bolong. Dalam hitungan jam, nama-nama orang tercinta berubah menjadi daftar korban, dan sebagian di antaranya bahkan dinyatakan hilang, seolah ditelan bumi.
Tujuh kru dan tiga penumpang pesawat ATR 42-500 itu mungkin juga tak pernah membayangkan bahwa penerbangan itu akan menjadi perjalanan terakhir mereka.
Mereka berangkat dengan rencana sederhana: kembali pulang, bertemu keluarga, dan menyambut hari Minggu dengan istirahat yang tenang.
Namun tak satu pun dari rencana itu sempat terwujud.
Dua korban berhasil ditemukan.
Sisanya masih menjadi nama-nama yang terus dipanggil dalam doa dan pencarian.
Salah satunya adalah Farhan.
Ia dikenal sebagai siswa berprestasi, pemuda dengan mimpi menjadi pilot terbaik.
Ironisnya, kini ia justru menjadi bagian dari daftar korban kecelakaan pesawat ATR yang belum ditemukan.
Gunung Bulusaraung di Sulawesi Selatan menyimpan Farhan dan nama-nama lain dalam diamnya.
Medan terjal, jurang curam, dan kabut tebal menjadi saksi bisu bagaimana tim SAR berjuang menembus alam yang seolah enggan melepaskan rahasianya.
Hanya sebuah KTP yang ditemukan di dalam tasnya, tergeletak di antara serpihan pesawat, sebuah identitas tanpa tubuh, nama tanpa kepastian.
Sebanyak 1.200 personel gabungan dikerahkan dalam operasi pencarian.
Semua kru dan alat dikerahkan untuk menjangkau titik-titik paling sulit.
Serpihan pesawat ditemukan terpencar, sebagian tersangkut di pepohonan, sebagian lain terperosok ke dasar jurang.
Setiap serpihan itu seperti potongan cerita yang terlepas dari keseluruhan kisah tragis ini.
Dalam dunia penerbangan, kecelakaan semacam ini tak pernah berdiri sendiri.
Investigasi biasanya melibatkan pemeriksaan cuaca ekstrem, kondisi medan, komunikasi terakhir kokpit, hingga rekaman penerbangan.
Namun bagi keluarga, semua istilah teknis itu kalah penting dibanding satu hal: menemukan orang yang mereka cintai, dalam keadaan apa pun.
Kini, di rumah-rumah yang jauh dari gunung itu, waktu seakan berhenti.
Telepon yang berdering bisa berarti harapan, tapi juga bisa menjadi kabar yang paling ditakuti.
Sisi Lain Cerita:
Tragedi ini mengingatkan kita bahwa hidup bisa berubah dalam satu perjalanan singkat, bahwa mimpi setinggi langit pun bisa jatuh dalam sekejap, dan bahwa di balik setiap “sampai jumpa” selalu ada orang tersayang yang menunggu, berharap, dan belajar merelakan dengan air mata.





