Tak pernah terbayangkan wajah cantik yang penuh senyum itu menyimpan begitu banyak luka sendirian.
Bertahun-tahun lamanya, luka itu bersembunyi di balik mimpi-mimpi buruk yang datang setiap malam.
Mungkin, ia tak lagi kuat menahannya.
Atau mungkin, ini adalah satu-satunya obat bagi luka lamanya.
Entah pagi, siang, atau malam, ia menuliskan perjalanan hidupnya, setiap detail yang dulu dipaksa ia kubur dalam diam.
Ia menulis sambil berlinang air mata, pasti.
Ingatan kelam itu harus ia korek lagi, membuka jahitan yang hampir sembuh.
Namun tekadnya satu: semua trauma ini harus disudahi.
Tak boleh ada lagi kisah grooming pada anak seperti yang pernah ia alami.
Ia membaca ulang hasil ketikannya.
Tak cukup sempurna bagi penulis andal, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa lebih ringan.
Sebentar lagi, ia tak lagi menyimpan derita sendiri.
Dan boom!
Dunia pun tahu.
Dunia kini tahu bagaimana ia diperlakukan oleh orang dewasa di usia yang amat belia.
Belum genap 17 tahun. Belum sah secara hukum. Belum paham apa artinya persetujuan, apalagi manipulasi.
Suara-suara di media sosial pun menggema.
Dukungan mengalir.
Kecaman membanjiri pelaku.
Pelecehan pada anak ini menyiksa banyak orang, bukan hanya dirinya.
Setiap orang yang membaca kisah itu dibuat terdiam, bahkan menangis.
Betapa mungkin manusia melakukan kebiadaban pada sesamanya, pada anak kecil yang masih belajar mengenal dunia.
Padahal, child grooming bukan cerita baru.
Dalam banyak laporan dan kasus hukum, grooming sering dimulai dari hal-hal yang tampak sepele: perhatian berlebih, hadiah kecil, pujian yang terasa hangat.
Perlahan, pelaku membangun kepercayaan, memisahkan anak dari lingkungannya, lalu menanamkan rasa takut dan rasa bersalah.
Inilah mengapa banyak korban baru berani bersuara bertahun-tahun kemudian.
Negara sebenarnya sudah mengakui bahaya ini.
Undang-Undang Perlindungan Anak menegaskan bahwa segala bentuk eksploitasi anak, baik fisik maupun psikologis, adalah kejahatan serius.
Namun hukum seringkali datang terlambat, setelah luka terlanjur mengakar.
Kisah ini mungkin hanya satu yang terungkap dan mendapat sorotan.
Di luar sana, masih banyak anak yang tertekan oleh orang dewasa, tetapi tak bisa berbuat apa-apa.
Cerita ini mengetuk pintu hati kita, mengingatkan bahwa tanda “tolong” sering kali tak berbunyi keras.
Ia berbisik, lewat perubahan sikap, ketakutan, atau diam yang terlalu panjang.
Sisi Lain Cerita
Grooming pada anak adalah kondisi gawat darurat yang kerap luput disadari.Maka, pakailah empati kita sebagai manusia.Dengarkan, peka, dan berani membantu karena melindungi anak bukan soal keberanian besar, melainkan keberanian untuk tidak lagi berpaling.





